* SELAMAT DATANG DI SEKAWAN SERVIS ELECTRONIC * SERVIS:TV,COMPUTER,DVC,Ampli fier dll. * Spesialis Kulkas,AC Rumah, AC mobil dan Mesin Cuci. * Alamat: Taraman Sidoharjo Sragen *

SEKAWAN KUMPULAN GOIB

upacara menanam ari ari

On Saturday, 12 November 2011 0 comments


Mendhem ari-ari iku salah sijining upacara kelairan sing umum diselenggara'ake malah uga ana neng daerah-daerah (suku-suku) liya. Ari-ari iku bagian penghubung antara ibu lan bayi wektu bayi esih neng jero rahim. Istilah liya kanggo ari-ari yaiku: aruman utawa embing-embing (mbingmbing.)

Ari-ari atau plasenta disebut juga dengan aruman atau embing-embing atau mbingmbing. Bagi orang Jawa, ada kepercayaan bahwa ari-ari merupakan saudara bayi tersebut oleh karena itu ari-ari dirawat dan dijaga sebaik mungkin, misalnya di tempat penanaman ari-ari tersebut diletakkan lampu sebagai penerangan. Artinya, lampu tersebut merupakan simbol pepadhang bagi bayi. Pemagaran di sekitar tempat penanaman ari-ari dan menutup bagian atas pagar juga dilakukan agar tidak kehujanan dan binatang (seperti katak) tidak masuk ke tempat itu.
Wong Jawa percaya yen ari-ari iku sejatine salah siji sedulur papat utawa sedulur kembar si bayi
Kendhil berisi ari-ari digendhong dan dibawanya ke tempat penguburan dengan dipayungi. Timbunan tanah untuk mengubur ari-ari dipagari dan di atasnya ditaburi kembang setaman (bunga mawar, melati, dan kenanga). Di atasnya dipasang lampu yang dinyalakan setiap malam selama selapan (35 hari). Tempat penguburan ari-ari ini biasanya terletak di samping kanan pintu masuk.


Tata cara

Ari-ari dikumbah nganti resik dilebo'ake neng kendhi utawa bathok kelapa. Sedurung ari-ari dilebo'ake, alas kendhi diwei godhong senthe banjur kendhine ditutup nganggo lemper sing esih anyar lan dibungkus kain mori. Kendhi banjur digendhong, dipayungi, digawa neng lokasi penguburan. Lokasi penguburan kendhi kudhu neng sisi tengen pintu utama umah.

Sing mendhem kendhi kudhu bapak kandung bayi.

Bahan yang akan ditanam / ubo rampe:

1. Bumbu dapur : serai, lengkuas, kunyit, salam, bawang merah, bawang putih, kencur, kunci.
2. Asem, garam, gula merah, gula pasir, gula batu (supaya banyak senyum)
3. Sebatang pensil diraut, kaca kecil, sisir kecil, buku tulis atau kertas putih polos dan benang (supaya pintar)
4. Kendil, tempat semua bahan, ari-ari dan perlengkapan
5. Kain putih 1/2 meter untuk bungkus ari-ari dan semua perlengkapan
6. Lampu sentir atau listrik 5 watt dengan kabelnya untuk dinyalan setiap Magrib s/d terang tanah (pagi setelah sholat Subuh), setiap hari sampai 40 hari umur bayi.
7. Bambu untuk memagari lokasi penanaman, agar tidak diganggu oleh binatang atau apa pun.

Tata cara menanam ari-ari :
1. Kalau bisa yang mengubur adalah ayah si bayi, ditemani oleh kedua belah orangtua
2. Sebelum menanam ari-ari, ayah harus melakukan persiapan seperti akan sholat. Memakai peci, baju dan sarung yang bersih, mengambil air wudhu dan membaca basmalah.
3. Sambil menanam berdoa agar bayinya kelak menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orangtua, cerdik dan hal-hal baik lainnya.

Persiapan penanaman :
1. Sebelum bayi lahir, agar disiapkan lubang berbentuk bulat dengan diameter 1/2 meter dan dalam 1/2 meter.
2. Sebelum ditanam, tutup kendil dibuka sedikit (dipecahkan) untuk memasang selang agar udara bisa keluar masuk. Sebagian selang berada di dalam tanah dan sebagian diluar tanah.
3. Apabila pencucian ari-ari di RS kurang bersih, maka ayah harus mencuci kembali sampai bersih betul lalu dibungkus kain putih yang disediakan, kemudian diikat dan diatasnya diberi semua bumbu dan barang-barang yang sudah disiapkan.


Meski ada beberapa macam cara memperlakukan tembuni, namun ada satu kesamaan, yaitu setelah dicuci dan dibersihkan dengan hati-hati menggunakan air bersih, tembuni dimasukkan ke dalam bejana tanah. Kemudian disertakan juga beberapa ’uba-rampe’ ke dalamnya. Secara detail tata-cara tersebut diuraikan dalam baris-baris Kidungan di bawah ini:

KIDUNGAN PANGRUKTINING ARI-ARI

(1) Bebukane golong-galing kaki (utawa : nini), putu banteng Wulung.
Kaki Among Nini Among kiye, lah tunggunen gusti arsa guling, sira sun opahi striya mujung.

(2) Kakang Kawah Adi Ari-ari payo pada nglumpuk.
mBok Nirbiyah lan Diah den age, batok bolu lan uyah ywa kari, lan arta rong duwit, dome aja kantun.

(3) Beras abang lawan lenga wangi, miwah gantal loro.
Tetulisan Arab lan Jarwane, den lebokken ing kendil tumuli, nganggo lawon putih, karya lemek iku.

Tiga bait Kidungan di atas menerangkan secara gamblang perlengkapan apa saja yang harus dimasukkan ke dalam bejana tanah bersama tembuni Sang Bayi, yaitu: garam, uang sepasang, jarum yang tajam, beras merah, gantal (sirih yang digulung dana diikat) dua ikat, kertas yang bertuliskan huruf Arab, Latin dan Jawa. Sebelumnya dipersiapkan dahulu kain mori putih secukupnya sebagai alas tembuni dan berbagai perlengkapan yang menyertainya. Kemudian minyak wangi disiramkan secukupnya, kain putih dari ujung ke ujung ditangkupkan dengan rapi, terakhir kendil ditutup dengan tutupnya.

Garam merupakan simbol kehidupan, dan nantinya si anak jika besar akan mampu ’menggarami’ dunia, agar menjadi tempat yang nikmat dan enak bagi siapa saja bak rasa masakan yang lezat. Uang menggambarkan harapan, kelak nanti sang Anak tidak akan kekurangan dalam hal materi. Berjumlah sepasang, agar dalam mencari materi dia tetap menjaga hubungan baik dengan orang-orang disekelilingnya, tidak asal ’tabrak’ dan juga agar tidak lupa bersedekah jika lebih.

Jarum yang tajam adalah gambaran pikiran yang tajam dari sang anak. Beras merah meyimpan harapan agar sang anak tidak pernah kekurangan pangan. Dipilih Beras Merah dengan maksud apa yang dimakan memberikan kekuatan dan kesehatan bagi sang bayi. Beras Merah juga menggambarkan kejujuran dalam berusaha, dan lambang keterikatan dengan keluarga. Sedang warna merah sendiri dalam budaya Jawa menggambarkan sisi keduniawian dari kehidupan. Kertas bertuliskan huruf Arab, Jawa dan Latin, dimaksudkan agar sang anak akan menjadi anak yang beragama, cerdas secara spiritual, emosi dan rasio. Gantal (sirih) menjadikan anak tumbuh sehat dan kuat, serta kelak akan mendapat jodoh yang ideal. Kesemuanya itu beserta tembuni dimasukkan kedalam mori putih, sebagai lambang kepasrahan kepada Yang Maha Esa atas segala doa dan harapan yang dibubungkan dan daya upaya yang telah dilakukan.


Selanjutnya kita simak lanjutan Kidungan di atas tersebut sebagai berikut:

(4) Kutu-kutu walang ataga sami, bareng laringong.
Kang gumremet kang kumelip kabeh, lah tunggunen gusti arsa guling sira sun opahi, jenang sungsum telu.

(5) Dandanane saking suwarga di, batok isi konyoh.
Batok tasik tapel lan pupuke, ana nggawa bokor lawan kendi, ana nggawa maning kebut wiyah payung.

(6) Widadari gumrubyung nekani pra samya amomong ana ngreksa in kanan kering.
Ana nggawa kasur lawan guling kajang sirah adi, kemul sutra alus.

(7) Benjang lamun bayi neka nangis, ingembana gupoh.
Marang latar pojok lor prenahe, pra leluhur rawuh anyuwuki, meneng aja nangis, jabang bayi turu.

Bait 4, menyatakan agar si Orang Tua membuat bubur sumsum sebagai sarana penolak segala penyakit dan bahaya. Kemudian di saat akan menananam kendil berisi tembuni, Bapak dan Ibu harus berdandan rapi seperti akan pergi ke pesta. Kendil di gendong menggunakan selendang, dan dilambari kasur kecil lengkap dengan bantal dan gulingnya, serta diselimuti sutra halus. Sang Ayah berdiri di sampingnya sambil memayungi Sang Ibu yang menggendong kendil berisi tembuni, di tangan satunya membawa kebutan.

Selanjutnya kendil tersebut dimasukkan ke dalam lubang tanah yang telah disiapkan dan ditimbun dengan rapi. Bila malam datang, tepat di atas timbunan itu diberi lampu minyak tanah (senthir), dan agar tidak mati tertiup angin ditutupi oleh kendil yang dibalik yang telah dilubangi dasarnya. Biasanya pemasangan senthir ini dilakukan minimal 35 hari (selapan) dan kadang sampai 3 bulan lamanya.

Dalam bait terakhir, dinyatakan apabila kelak sang bayi menangis terus. Maka orang tua harus menggendongnya ke pojok utara pekarangan rumahnya, dengan maksud agar para leluhur datang untuk menghibur bayi agar tenang.


Upacara Brokohan
Upacara brokohan merupakan upacara yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut hadirnya warga baru dalam keluarga, yaitu si bayi sebagai ungkapan rasa syukur. Seluruh upacara kelahiran ini bertujuan agar sejak saat kelahiran sampai pertumbuhan masa bayi selalu mendapat karunia keselamatan dan perlindungan dari Tuhan. Unsur kata brokohan berasal dari kata bahasa Arab barokah yang mengandung makna: mengharapkan berkah.

Upacara brokohan diselenggarakan pada sore hari setelah kelahiran anak dengan mengadakan selamatan atau kenduri yang dihadiri oleh dukun perempuan (dukun beranak), para kerabat, dan ibu-ibu tetangga terdekat. Setelah kenduri selesai, para hadirin segera membawa pulang sesajian yang telah didoakan. Biasanya sesajian sudah dikemas dalam besek, yaitu suatu wadah yang terbuat dari sayatan bambu.

Sesajian yang dipersiapkan pada upacara brokohan, antara lain: minuman dhawet, jangan menir, sekul ambeng: nasi dicampur lauk pauk jeroan, pecel dicampur lauk ayam matang, telur mentah, kembang setaman, kelapa, dan beras. Makanan yang telah matang tersebut dapat juga diganti dengan bahan makan yang belum diolah, misalnya bawang merah, bawang putih, lombok merah, lombok hijau, lombok rawit, gula jawa, sebungkusteh, sebungkus gula pasir, tempe mentah, garam, beras, minyak goreng, telur mentah, sepotong kelapa, dan penyedap rasa atau sesuai dengan kemampuan masing-masing.


Upacara Puputan atau Dhautan
Dhautan atau puputan berasal dari kata dhaut atau puput yang berarti lepas. Upacara puputan atau sering disebut juga dengan dhautan diselenggarakan pada sore hari untuk menandai putusnya tali pusar bayi dengan mengadakan kenduri selamatan.

Kenduri selamatan sebagai ungkapan rasa syukur dipimpin oleh kaum dengan dihadiri oleh para kerabat dan bapak-bapak tetangga terdekat.

Sesajian yang perlu dipersiapkan pada upacara puputan ialah sega gudangan: nasi dengan lauk pauk sayur mayur dan parutan kelapa, jenang abang, jenang putih, dan jajan pasar.

Waktu penyelenggaraan upacara puputan tidak dapat ditentukan secara pasti karena putusnya tali pusar masing-masing bayi tidak sama. Adakalanya tali pusar lepas setelah bayi berumur satu minggu, adakalanya kurang dari satu minggu.

Upacara puputan ini ditandai antara lain dengan dipasangnya sawuran, yaitu bawang merah, dlingo, bengle yang dimasukkan ke dalam ketupat, dan aneka macam duri kemarung di sudut-sudut kamar bayi. Selain itu dipasang juga daun nanas dipoles warna hitam putih, dedaunan apa-apa, awar-awar, dan girang, dan duri kemarung. Di halaman rumah ditegakkan tumbak sewu. Di tempat tidur bayi diletakkan benda-benda tajam seperti pisau, gunting.

Bayi perempuan setelah tali pusarnya lepas, pusarnya ditutupi dengan biji ketumbar sedangkan laki-laki ditutupi dengan biji merica dengan dilekati obat tradisional Jawa berupa ramuan benangsari bunga nagasari, dan lain-lain yang ditumbuk sampai halus. Tali pusar yang barusaja putus dibungkus dengan kain banguntulak untul bantal si bayi sampai bayi berumur selapan


Upacara Selapanan
Upacara sepasaran merupakan suatu upacara yang menandai bahwa bayi telah berumur selapan (tiga puluh lima hari). Hitungan selapan itulah yang menandai bahwa hari itulah hari weton si bayi. Upacara selapanan pada kalangan masyarakat tertentu bersamaan dengan pemberian nama bagi si bayi. Tempat penyelenggaraan upacara selapanan biasanya di pendapa atau di ruang samping rumah atau di suatu ruang yang cukup luas untuk menyelenggarakan upacara.

Upacara selapanan didahului dengan upacara parasan. Parasan berasal dari kata paras yang berarti cukur. Parasan dilakukan pertama kali oleh ayah si bayi kemudian para sesepuh. Setelah rambut tercukur bersih, dilakukan pengguntingan kuku. Selama pencukuran rambut dan pemotongan kuku, dhukun mengucapkan mantra-mantra penolak bala dan membakar kemenyan. Cukuran rambut dan guntingan kuku dimasukkan ke dalam kendhil baru kemudian dibungkus dengan kain putih (mori), lalu dikubur di tempat penguburan ari-ari.
Upacara mencukur rambut dan menggunting kuku si bayi pada hakekatnya adalah perbuatan ritual yaitu semacam kurban menurut konsepsi kepercayaan lama dalam bentuk mutilasi tubuh.

Setelah pencukuran rambut dan pemotongan kuku selesai, diucapkanlah ujub disusul dengan doa keselamatan bagi si bayi dan keluarga. Sebagian sesajian selamatan dibawa pulang oleh kerabat dan tetangga yang hadir. Dengan demikian, selesailah sudah upacara selapanan.

Dalam melaksanakan upacara kelahiran, masyarakat Jawa percaya bahwa keseluruhan unsur dalam upacara tersebut mempunyai makna atau lambang tersirat. Makna atau lambang yang tersirat dalam upacara-upacara masa kelahiran dalam masyarakat Jawa, ialah:


Duri dan daun-daunan berduri dipasang di penjuru rumah, maknanya ialah menolak gangguan bencana gaib.
Tumbak sewu, yaitu sapu lidi yang diberi bawang dan cabe, diletakkan di dekat tempat tidur bayi. Tumbak sewu ini bermakna untuk menolak makhluk gaib yang datang, yang mungkin akan mengganggu keselamatan si bayi. Dengan adanya tumbak sewu ini makhluk gaib tidak akan berani mendekati si bayi.
Coreng-coreng hitam putih pada ambang pintu untuk menolak pengaruh jahat yang akan masuk melalui pintu.
Kertas bertuliskan huruf Arab, latin, dan Jawa mengandung makna agar bayi kelak mahir membaca ayat suci, memilki kepribadian Jawa, menguasai berbagai pengetahuan. Syarat yang berupa benang dan jarum bagi bayi perempuan, diharapkan agar si bayi tumbuh menjadi perempuan yang tahu tanggungjawabnya kelak sebagai ibu/istri. Syarat yang berupa uang bagi bayi laki-laki, diharapkan agar si bayi kelak dapat mencari nafkah bagi keluarganya.
Payung mengandung makna agar si bayi kelak menjadi orang luhur. Kain mori putih agar si bayi kelak berhati jujur. Kuali yang dipasang terbalik (kuali bolong) melambangkan dunia. Pelita melambangkan sinar yang menerangi kegelapan.
Air dan kembang setaman mengandung makna kesucian.
Kaca/cermin (pangilon) mengandung makna magis yang mampu mengusir kedatangan makhluk halus jahat.
Dedaunan apa-apa, awar-awar, dan girang maknanya mengandung harapan agar kelahiran tidak mengalami sesuatu gangguan (apa-apa), semua kekuatan jahat menjadi tawar (awar-awar), dan seluruh keluarga bergembira (girang). Duri (ri) kemarung dianggap memiliki kekuatan magi alam yang mampu mencelakakan setiap makhluk halus yang mencoba datang untuk maksud jahat.
Daun nanas yang diolesi hitam putih menyerupai ular welang mengandung makna magis yang mampu menakut-nakuti makhluk halus jahat yang hendak memasuki kamar bayi.
Telur mentah melambangkan kekuatan.
Kelapa melambangkan ketahanan fisik.
Ingkung melambangkan embrio.
Jajan pasar melambangkan kekayaan.
Pisang raja melambangkan budi luhur atau derajat mulia.
Gula jawa melambangkan kemanisan hidup.
Sega gudangan melambangkan kesegaran jasmani rohani.
Dawet melambangkan kelancaran usaha hidup

0 comments:

Post a Comment